GR Wisuda

Kemarin tanggal 26 Februari 2008, aku mengikuti GR wisuda di kampus. Awalnya terasa malas sekali mengikuti wisuda, karena ini adalah wisuda kedua. Dulu waktu wisuda diploma, walau bangga itu ada tapi tidak terasa hikmat, 
karena sebagian besar wisudawan berada di luar aula sehingga tidak dapat menyaksikan prosesi wisuda secara langsung. Keadaan semakin terasa kurang hikmat karena fasilitas untuk orang tua kurang diperhatikan dan pengantar wisuda pun bebas memasuki area wisudawan yang berada diluar aula tanpa ada penjagaan dari petugas untuk menertibkan.

Melihat GR kemarin, mungkin nanti akan berbeda keadaannya, karena kampusku semakin memperbaiki acara wisuda ini agar terasa gregetnya. Semua wisudawan akan masuk aula dan mengikuti prosesi pelantikan wisudawan secara langsung. Ini karena wisuda dilakukan selama 3 hari yang masing-masing terdiri dari 2 sesi, yaitu sesi pagi dan sesi siang.

Kampusku ternyata mulai berbenah, dengan status universitas negeri tentunya harus lebih meningkatkan kualitasnya. Tapi masih banyak yang harus diperbaiki oleh almamaterku ini, terutama soal pelayanan kepada mahasiswanya.

Setelah GR, aku dan temanku Ana, bermaksud menandatangani ijasah yang harus dilakukan di kampus J. Tetapi alangkah kecewanya aku, karena setelah sampai Jatinangor, ternyata tata usaha tidak ada satu orang pun di tempat dengan alasan lagi GR di kampus DU. Padahal yang aku tau, petugas yang berada di GR cuma satu orang dari bagian SBK. Dan logikanya gak mungkin kantor di tinggal semua petugasnya untuk GR.

Alasan yang diberikan atas ditutupnya SBK tersebut kurang profesional, hanya karena kantor mati lampu, petugas TU tidak ada di tempat. Ehm…entah perasaan apa yang berkecamuk dalam hati dan pikiranku. Kesal. Marah. Sedih. Semua jadi satu. Setelah aku berkorban untuk ijin tidak masuk kantor (aku sering ijin untuk seminar, sidang dll), ternyata semua terasa sia-sia. Gak tau siapa yang harus dipersalahkan dalam hal ini, mekanisme, etos kerja? Kejadian yang menimpaku ini pasti bukan hanya terjadi di kampusku saja, ini sebuah renungan, bagaimana dunia pendidikan akan maju, jika tidak didukung oleh SDM yang berkualitas. Untuk almamaterku, teruslah memperbaiki diri, terutama Layanan prima karena akan meningkatkan kualitas pendidikan.

Baik buruknya kampusku, tapi aku bangga sudah menjadi bagian dari suatu institusi idaman. Lagu Almamater pun akan terus bernyanyi di hatiku.

Almamater

Kan kutunjukkan padamu
Kan kubuktikan padamu
Rasa bangga dan baktiku
Almamater

Jangankan keringatku
Darahku pun kurelakan
Guna baktiku padamu
Almamater

Meski kan kutinggalkanmu
Meski kan jauh darimu
Hatiku s’lalu padamu
Almamater

Dengan lindungan Tuhanku
Dengan semangat dari-mu
Ku kan selalu berjuang
Almamater

2 thoughts on “GR Wisuda

  1. mengenyam pendidikan tinggi merupakan suatu kebanggaan bagi kita. apalagi di kampus favorit seperti Unpad, UGM, UI, etc…menempuh perjalanan dari pangkalan damri DU sampe Jatinangor juga pernah aku alami sewaktu kuliah di Jatinangor dulu yang begitu melelahkan dan membosankan, apalagi kalo terjebak kemacetan. tapi meski begitu, si ‘eneng’ harus bersikap positif atas kejadian ini, toh bagaimanapun almamater merupakan kebanggaan tersendiri bagi kita, apalagi telah membawa kita kedunia kerja…

  2. Kejadian itu pelajaran buat saya pribadi. Karena kebetulan saya pun bekerja di institusi pendidikan negeri. Maka saya juga tidak boleh bersikap demikian, dan “Layanan Prima” yang sedang didengung-dengungkan di tempat saya bekerja ini, terutama bagi pegawai baru seperti saya ini, yang diharapkan dapat mengubah jiwa-jiwa “PNS”. Mudah-mudahan bisa saya terapkan dengan baik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s