Tekanan untuk si ‘Single’

Aku membaca sebuah tulisan tentang kehidupan pribadi yang mirip dengan film “27 Dresses” yang sinopsisnya sebagai berikut :

Jane (Katherine Heigl) selalu pandai mengurus kebutuhan orang lain, namun tidak dengan dirinya sendiri. Seluruh hidupnya membahagiakan orang lain – ia memiliki lemari penuh dengan 27 baju pengiring pengantin sebagai bukti.  Satu malam mengesankan, Jane berhasil menggelar resepsi pernikahan di Manhattan dan Brooklyn, prestasi yang disaksikan oleh Kevin (James Marsden), seorang wartawan surat kabar yang tersadar bahwa cerita mengenai pemadat pernikahan ini adalah tiketnya menuju sukses.

Jane menemukan sinisme Kevin ke segala hal yang ia lakukan — yaitu pernikahan, dan kunci terompet. Hidup Jane yang sempurna menjadi berantakan – saat kehadiran adiknya, Tess (Malin Akerman). Tess dengan segera merebut hati majikan Jane, George (Edward Burns). Tess meminta bantuan Jane merancang sebuah pernikahan – pernikahan Tess dan George — namun perasaan Jane terhadap George membuatnya membuka sebuah rahasia yang mengejutkan… dan bisa jadi membuatnya memulai hidup baru.

Aku sudah nonton film itu beberapa bulan yang lalu, mirip juga dengan pengalaman hidupku, aku sering jadi panitia dalam acara pernikahan sepupu-sepupuku, begitu juga waktu adikku menikah. Tapi aku belum mengurusi penikahan aku sendiri 🙂.

Diusiaku yang tidak muda lagi, mau memasuki kepala tiga dan jomlo pula, dimana lingkungan sering bertanya kapan aku akan menikah, ada yang melihat sinis karena menyangka aku lebih mementingkan karir, tidak memikirkan kehidupan pribadiku sendiri, desakan dari orang tua untuk segera memperkenalkan calon, ehm… kalau gak kuat mental … bisa jadi stress berat dech😀

Aku menyikapi semua hal diatas tadi, berusaha untuk dewasa. Lapang dada. Tekanan mereka aku anggap kalau mereka menyayangiku, memperhatikanku. Tanggapan yang negatif menjadikan aku untuk lebih belajar sabar dan ikhlas. Andai mereka tahu jika aku berdoa dalam setiap sholat dan malamku, bahwa aku tidak mematok kriteria yang berlebih untuk jadi pendampingku, bahwa aku ingin segera menyempurnakan agamaku, bahwa ingin segera aku mengurus suami dan membesarkan anak-anakku dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Aku diberikan kemudahan untuk aspek-aspek diluar jodoh, dan soal jodoh ini memang menguras perasaan hatiku. Diluar aku selalu terlihat santai, menikmati hidup karena aku tahu ini semua adalah kuasaNya. Yang penting aku sudah berusaha dan berdosa semampu aku. Aku pasrah. Tapi kala iman ini turun, putus asa itu kerap hadir dalam hati. Aku hanya bisa beristigfar jika tersadar bahwa aku tidak boleh seperti itu. Aku hanya tidak ingin salah pilih, menikah hanya untuk menyenangkan orang tua dan lingkunganku.

Aku menganggap, kesendirianku ini sebagai ujian dariNya. Untuk lulus dariNya, aku harus berusaha belajar dan berdoa lebih keras lagi sampai aku dinyatakan lulus olehNya untuk mengemban amanah yang lebih besar lagi. Senyum dan Semangat !!!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s